![]() |
Gereja Toraja Jemaat Sion Anutapura Palu |
![]() |
Gereja Toraja Jemaat Moria Palu |
![]() |
Gereja Toraja Jemaat Elim Sausu Kab. Parigi Moutong |

Persekutuan Pemuda Gereja Toraja Jemaat Sion Anutapura Palu, Sulawesi Tengah
![]() |
Gereja Toraja Jemaat Sion Anutapura Palu |
![]() |
Gereja Toraja Jemaat Moria Palu |
![]() |
Gereja Toraja Jemaat Elim Sausu Kab. Parigi Moutong |
Bacaan Alkitab : Bilangan 11 : 1-6
Tahukah anda, salah satu penyebab orang Israel enggan untuk menuruti pimpinan Tuhan yang akan membawa mereka ke Tanah Perjanjian adalah karena mereka hidup di masa lalu mereka. Sekalipun secara fisik mereka sedang menuju ke Tanah Perjanjian, namun hati dan pikiran mereka tertambat di Mesir.
Ada orang yang tidak pernah maju didalam kehidupannya karena ia hidup di masa lalunya. Masa lalunya yang penuh kegetiran, selalu dibawanya ke mana pun ia pergi. Kegelapan hidup masa lalu, diletakkan didepannya, sehingga ia melihat segala sesuatu gelap seperti masa lalunya. Ada orang yang pernah dikecewakan hatinya oleh seseorang, dan ia selalu membawa sakit hatinya kemana pun ia pergi. Sakit hati yang dipeliharanya dengan baik itu bertunas dan merebak kemukanya, sehingga orang-orang selalu melihat mukanya tidak pernah berseri. Ada orang yang senantiasa membawa kebencian kemana pun ia melangkah. Ia bak membawa telur busuk disaku celananya! Ada juga orang yang selalu diikuti oleh kegagalan masa lalunya. Ia tidak pernah menganggap kegagalan itu sebagai sesuatu yang lumrah dan merupakan pelajaran yang berharga bagi hidupnya.
Sebenarnya, Tuhan sedang memnuntun orang-orang Israel ke sebuah tempat yang subur, alamnya kaya besi dan tembaga, dan yang lebih penting lagi adalah mereka akan menjadi tuan di tanah mereka sendiri, bukan menjadi budak bagi bangsa lain. Jika saat ini, perjalanan hidup anda sedang berada ditahap yang kurang menyenagkan, ingatlah, ini merupakan satu proses yang harus dijalani dengan iman dan pengharapan yang positif bahwa Tuhan sedang menuntun kita menuju ke tempat yang lebih baik lagi. Jangan bersungut-sungut, tetapi bersyukurlah agar hati kita menjadi tenang dan kita bisa melihat dengan jelas ke mana Tuhan menuntun kita. Sungut-sungut tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi ketaatan kita kepada Tuhan akan membawa kita sampai ke tanahn yang subur.
Mata yang tertuju kepada masa lalu tidak akan pernah membawa kepada kemajuan ke masa depan.
Bacaan Alkitab : Kejadian 39 : 6b-23
Cerita dalam kejadian 39 ini merupakan peristiwa yang sangat penting, walaupun yang diceritakan adalah kisah menyedihkan yang dialami Yusuf. Oleh karena fitnah yang dibuat oleh Potifar, maka Yusuf dijebloskan kedalam penjara. Namun demikian, sesungguhnya “pengalaman pahit” Yusuf ini turut menentukan jalan kehidupannya.
Yusuf meyakini bahwa dengan menjaga dirinya untuk selalu hidup taat dan suci di hadapan-Nya, maka Tuhan akan senantiasa menyertai/menuntunnya dalam melewati berbagai rintangan dan godaan dunia ini.
Ketika istri Potifar menggoda, Yusuf menyadari bahwa jika dia terjerat dalam hawa nafsu maka ia tidak hanya berdosa terhadap dirinya sendiri atau terhadap Potifar dan istri tetapi dia berdosa kepada Tuhan. Hal ini menegaskan bahwa yusuf sangat mengasihi Tuhan dan menjadikan-Nya sebagai yang utama dalam hidupnya. Cintanya yang sangat dalam terhadap Tuhan membuat Yusuf, tidak sanggup mengkhianati-Nya. Iman seperti inilah yang membuat Yusuf, di manapun ia berada, senantiasa menjadi berkat dan dikasihi tuannya dan setiap orang yang mengenalnya.
Intinya selama seseorang melakukan apa benar di mata Tuhan dan manusia, keadaan seburuk apapun yang menimpanya tidak akan pernah menghancurkan/meruntuhkan nama dan reputasi baiknya
Bacaan Alkitab : Roma 9 : 11
Tukang periuk adalah seorang yang membuat bejana dari tanah liat. Karena kebutuhan bejana disetiap rumah tangga orang Israel bervariasi, maka masing-masing desa pada umumnya mempunyai tukang periuk sendiri. Tukang periuk dituntut untuk dapat menemukan tanah liat yang bagus, karena dia tidak bisa mengubah kualitas tanah yang biasa. Tanah liat yang bagus mempermudah pengerjaannya dan hasilnya tidak mudah retak. Tanah liat yang digunakan adalah tanah liat merah, tetapi kadang-kadang dicampur dengan batu gamping atau apur. Pertama-tama tanah liat tersebut dibiarkan terkena matahari, embun atau hujan. Hal ini dimaksudkan supaya terbebas dari hal-hal yang tidak berguna, misalnya binatang-binatang kecil. Kemudian ditambahkan air sedikit demi sedikit sambil diinjak-injak. Setelah tanah liat siap , tukang periuk akan membentuknya sesuai dengan yang dinginkannya. Ada yang dimasukkan kedalam cetakan, seperti yang biasa dilakukan oleh orang Kanaan; ada yang dibentuk dengan tangan, biasanya ini berupa mainan dan tungku; ada yang dibentuk diatas roda atau sesuatu yang bisa berputar, ini merupakan cara yang paling umum. Setelah terbentuk, tanah liat itu dibiarkan mengeras. Proses yang terakhir adalah pembakaran. Tetapi, justeru dibagian akhir inilah merupakan “ujian” yang sesungguhnya dari tanah liat tersebut. Pembakaran dengan temperatur yang tinggi akan membuat periuk itu menjadi “matang”. Periuk yang “matang” tidak akan mudah hancur atau pecah, dan tidak akan membuat air meresap keluar.
Sebagaimana tukang periuk menghendaki tanah liat yang dibentuknya menjadi barang yang indah dan berguna, demikian juga maksud Tuhan terhadap kita masalah berguna untuk membunuh kuman rohani dalam diri kita. Injakan kaki Tuhan untuk melembutkan hati kita dan. Marilah kita relakan diri kita untuk melalui proses yang mungkin menyakitkan. Sengatan membuat kita tidak mudah retak. Kelembutan tangan-Nya memoles diri kita menjadi seperti yang Dia mau. Api kesengsaraan akan mendewasakaan iman kita
Penyerahan total memudahkan kita menjadi “barang bentukan” Tuhan yang indah dan berdaya guna.
Bacaan Alkitab : Kejadian 3 : 12-13
Kita sering mendengar berita di media massa tentang kecelakaan, bencana dan masalah lain yang menimpa negeri ini. Tetapi, berita-berita itu tidak muncul sendirian. Sesuatu yang setia menemaninya adalah kambing hitam. Ketika kecelakaan atau bencana terjadi, gerakan yang tepat terlihat adalah mencari kambing hitam. Yang mengherankan, pejabat pun turut rajin mencari kambing hitam. Sepertinya langka melihat pejabat dengan gentle meletakkan jabatannya kalau ada masalah yang berkaitan dengan jabatannya.
Mengkambinghitamkan sesuatu atau seseorang sepertinya sudah mendarah daging. Hal itu mungkin terjadi karena sebagian besar dari kita dididik untuk menjadi demikian. Untuk menghibur anak kecilnya yang menangis karena menabrak meja atau kursi, orang tua berkata “Wah, mejanya nakal ya”. Lalu meja atau kursi itu dipukul, padahal tidak ada sesuatu pun yang dilakukan meja, kursi itu. Hal tersebut, disadari atau tidak, akan direkam oleh si anak. Anak akan merasa tidak harus bertanggung jawab kalau mereka melakukan kesalahan, bahkan mencari sesuatu untuk disalahkan. Semakin besar, anak itu tidak hanya menyalahkan benda mati, tetapi orang lain. Disisi lain, hal ini merupakan dampak dari dosa. Adam dan Hawa merupakan contohnya. Setelah mereka jatuh kedalam dosa, mereka berusaha menyalahkan pihak lain.
Memang tidak mudah mengalahkan kebiasaan negatif ini, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Perintah Tuhan supaya kita mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui merupakan penegasan bahwa kita bisa mengalahkan kebiasaan tersebut. ada kalanya kita harus hidup dipimpam oleh Roh Kudus, dipimpin oleh Roh Kudus adalah kunci kemenangan atas kedagingan, termasuk kebiasaan mengkambinghitamkan sesuatu atau seseorang. Serta menyadari bahwa kita tidak sempurna, kesadaran yang demikian akan menolong kita untuk menerima atau kegagalan tanpa harus menyalahkan pihak lain.
Dengan mengkambinghitamkan pihak lain sebenarnya seseorang sedang menampakkan kelemahannya sendiri.